Mengejar Cahaya
Siapa yg tahu ada percikan titik panas menempel makin lama makin membuat lubang dan bersarang di dalam kaca jiwa. Sekuat-kuat tameng, jika kaca itu rapu maka berakhir dalam lubang nista.
Nggak tau apa yg membuatku begini di satu malam yg kita juga nggak tau ada fakir miskin yang kelaparan atau kehausan. Malam bukan bebrarti tanda maut, kejelasan hakiki yg akan menerpa bagi yang mengerti hatinya.
Malam memeluk, serasa diriku ini makin terpantau oleh yang merajai diriku. aku merasa bernoda, bodoh, angkuh, dan kadang takut yang berlebihan. Jiwaku serasa terhalangi oleh kontaminasi api dan air. Tapi yg mana yang mau aku minum? apa yang membuatku hangat?
Lebih baik diri ini mencari cermin yg akan memberitahukan segala bentuk kecuranganku. Bumi yg dianugerahkan kepadaku untuk bersujud kenapa aku abaikan? sepertinya aku ini mahluk yg paling sombong, padahal aku sendiri berpijak di bumi ini.
Seonggok aksara-aksara mulia yg turun di bumi ini makin aku abaikan, sedangkan hidupku sudah tergambar di sana. Aku ini menyewa, sekali lagi aku ini menyewa untuk hidup di sini. Alangkah durjananya jika aku mencoba untuk memiliki dan mengatur segalanya di sini.
Sudah dua fase aku lalui dalam kesadaran yg tinggi, tapi kenapa aku selalu membodohkan diriku sendiri. Se akan-akan aku ini yg paling mengerti dari semua makhluk yg berjajar di atas hamparan di bawah sinar kehidupan fana. Aku ingin raih keaslianku menuju naungan kemuliaan. Tetapi kenapa sebagian besar tak ada yg memihakku?
Sahabatku yg begitu berjasa mengingatkanku, seperti aku haus dan bertemu dengannya lalu ia mengajakku di kedai anggur yg segar sambil bercerita tentang masa lalu yg menggelitik tawa. Rinduku hanya anugerah yang menambatkan satu cahaya walau se titik saja.
Restui aku, yg kini inginkan itu. Pahami aku yg ingin mengerti tentang segala nafas hati saudara-saudaraku. Biar aku dianggap pengecut, pengkhianat, pengadu domba. Ujungnya, meski luka perih, menyayat membusuk di atas tanah gersang, aku masih ingin "Mengejar Cahaya"