Archive for February, 2006

Sadaqah yg mulia

Tuesday, February 28th, 2006

Bismillah,

Jujur aja kalo dikatain aku ini makhluk malam yg sering jarang di rumah, walau pulang kerja malam, aku selalu memperlambat laju motorku di jalanan ketika malam tiba. Malam hari, kita selalu bertemu beberapa misteri dalam hidup, tangis, tawa,termenung,panik semua nampak keasliannya.

Se nyaman-nyamannya orang kaya, jika dia tak bisa menikmati kehidupan maka akan nampak malam harinya. Sekuat-kuat ksatria, jika malam datang bersama maut, nampaklah keasliannya. Jikalau si fakir pada siang harinya mencari makan dengan susah payah, mengharapkan belas kasihan orang. Tetesan keringatnya membasahi jalanan yg tangannya menggenggam kaleng dengan agak sedikit gemeteran menahan lapar. Setelah mendapatkan rezeki walau cukup, akhirnya ia dapat makan dan minum dengan anugerah Allah.

Tetapi apakah Anda tahu yg terjadi di malam hari? dia lapar, haus, kedinginan, tak bisa tidur, apakah kamu sekalian sempat mengetahuinya? mohon beribu maaf jika aku berkesan menggurui Anda sekalian. Karena ini harus aku sampaikan, jika tidak, bagaimana jika Anda mengalami apa yg dialami oleh mereka?

Aku sedikit mengutip kisah dari Imam Ja’far Ash Shadiq As cucu baginda Nabi SAAW nan suci. Satu malam setelah beliau melakukan shalat Tahajjud, sang Imam kerap selalu memasak dan membuat roti. Setelah roti itu matang dan siap dihidangkan, Imam langsung menaruh ke dalam satu jenis baskom.

Kemudian Imam menyangga baskom itu ke atas kepalanya, dan segeralah Imam berkeliling kampung sambil tak melepas pandangannya kiri dan kanan. Salah satu sahabat di masjid sempat mengamati Imam. Dia bertanya dalam hati "kepada siapakah Imam menjual roti2 itu di malam hari? " dan ini berlangsung berulang-ulang di tiap harinya.

Dan akhirnya si sahabat itu menunggu Imam menjajakan roti itu di depan masjid. Tak salah lagi, Imam akhirnya keluar menyungun roti itu kembali di malam hari. "Assalamu alaikum ya Ahlulbait Rasul, hendak kemanakah Anda menjual roti itu? "sang Imam kemudian berkata: "Kalau Anda ingin mengetahui saya berdagang di mana, silahkan Anda ikut saya",jawab Imam mengumbar senyum pada sahabat.

Tanpa berat hati, sahabat mengikuti sang Imam, ternyata memang sepi kondisi malam itu. Sahabat masih bertanya-tanya hendak dijual kemana roti itu? dan akhirnya Imam berhenti di depan seorang fakir yg memakai baju compang-camping sedang memegangi perutnya sambil tertidur di salah satu pelataran pasar.

Imam langsung membangunkannya dengan lembut, Imam kemudian memberinya roti itu untuk dimakan. Dan kejadian itu pun berulang-ulang dilakukan oleh Imam as walau di lain tempat. Sahabat baru mengerti apa yg dilakukan oleh Imam as. " Tahukah Anda, sebenarnya sadaqah yg mulia itu dilakukan di malam hari,  tahukah Anda ada fakir miskin kelaparan dan kehausan dimalam hari? sementara itu di malam hari banyak orang tertidur lelap dengan selimut kulitnya, di malam hari juga para malaikat senantiasa menunggu doa kita juga".

Nah, cuplikan kisah inilah semoga memperpeka jiwa sosial kita untuk lebih menyantuni si miskin. Bayangkan saja, seorang pemimpin di malam hari rela memanggul roti untuk si dluafa’? bagaimana dengan pemimpin kita? bagaimankah dengan kita? Mohon maaf jika tulisan ini berkesan menggurui, semoga Anda yg membaca tergugah hatinya. Keluyuran malam boleh aja, asalkan mengandung makna yg tersirat di dalam kehidupan Anda sendiri. Semoga Allah senantiasa memberi rezki yg cukup untuk kita walau dalam kondisi negara saat ini agak kacau, Amiin!!   

Mengejar Cahaya

Saturday, February 25th, 2006

Siapa yg tahu ada percikan titik panas menempel makin lama makin membuat lubang dan bersarang di dalam kaca jiwa. Sekuat-kuat tameng, jika kaca itu rapu maka berakhir dalam lubang nista.

Nggak tau apa yg membuatku begini di satu malam yg kita juga nggak tau ada fakir miskin yang kelaparan atau kehausan. Malam bukan bebrarti tanda maut, kejelasan hakiki yg akan menerpa bagi yang mengerti hatinya.

Malam memeluk, serasa diriku ini makin terpantau oleh yang merajai diriku. aku merasa bernoda, bodoh, angkuh, dan kadang takut yang berlebihan. Jiwaku serasa terhalangi oleh kontaminasi api dan air. Tapi yg mana yang mau aku minum? apa yang membuatku hangat?

Lebih baik diri ini mencari cermin yg akan memberitahukan segala bentuk kecuranganku. Bumi yg dianugerahkan kepadaku untuk bersujud kenapa aku abaikan? sepertinya aku ini mahluk yg paling sombong, padahal aku sendiri berpijak di bumi ini.

Seonggok aksara-aksara mulia yg turun di bumi ini makin aku abaikan, sedangkan hidupku sudah tergambar di sana. Aku ini menyewa, sekali lagi aku ini menyewa untuk hidup di sini. Alangkah durjananya jika aku mencoba untuk memiliki dan mengatur segalanya di sini.

Sudah dua fase aku lalui dalam kesadaran yg tinggi, tapi kenapa aku selalu membodohkan diriku sendiri. Se akan-akan aku ini yg paling mengerti dari semua makhluk yg berjajar di atas hamparan di bawah sinar kehidupan fana. Aku ingin raih keaslianku menuju naungan kemuliaan. Tetapi kenapa sebagian besar tak ada yg memihakku?

Sahabatku yg begitu berjasa mengingatkanku, seperti aku haus dan bertemu dengannya lalu ia mengajakku di kedai anggur yg segar sambil bercerita tentang masa lalu yg menggelitik tawa. Rinduku hanya anugerah yang menambatkan satu cahaya walau se titik saja.

Restui aku, yg kini inginkan itu. Pahami aku yg ingin mengerti tentang segala nafas hati saudara-saudaraku. Biar aku dianggap pengecut, pengkhianat, pengadu domba. Ujungnya, meski luka perih, menyayat membusuk di atas tanah gersang, aku masih ingin "Mengejar Cahaya"