Curhat pada Cinta

April 16th, 2007 by penjaga-cermin

Mimpi, semua manusia pasti nikmati bahkan secara paksa pun mereka kudu nerima. Mimpi sebagai firasat jika memahami arti dirinya, namun untuk memahami hal itu pastilah terlebih dahulu melalui kisi-kisi yang begitu membelenggu.

Tatkala kebingungan tiba, malam hari dijadikan curahan hati kepada Cinta. Yang mendesak adalah getaran jiwa yang ingin menerobos rongga tenggorokan ini. Persembahkan diri kepada Cinta adalah hakiki.

Jika kita disadarkan dengan kuat oleh mimpi, apalagi malam hari tatkala banyak makhluk yang tertidur. Di sinilah energi-energi suci bertebaran lalu menunjuki satu persatu siapa yang dijadikan kepercayaannya.

Bagi yang terlelap penuh dengan kebajikan, tanda-tanda akan ditampakkan begitu jelasnya sampai merasuk dalam gelombang alam fikir nyata. Se tidaknya pertanda itu sudah membisik dengan suara lantang tanpa selingan apapun.

Dari pusara sujud itu kita akan semakin mengerti makna diri dan jiwa . Setiap ingin melangkah, nasihat dari nonwujud memperkuat bisikan hati. Maka piilhan pun nampak dengan jelasnya yang disuarakan oleh nasihat bijak melalui ruh kita.

Percayakan dirimu pada nasehat itu, sebab takkan kamu dapatkan jika memang waktu itu berpihak denganmu. Yang pasti, kebenaran sejati berpihak kepadamu. Dan peliharalah isi nasehat suci itu hingga kau dapatkan yang kau inginkan sebelum Cinta tak mengenalmu lagi.

Curhat pada Cinta

April 16th, 2007 by penjaga-cermin

Mimpi, semua manusia pasti nikmati bahkan secara paksa pun mereka kudu nerima. Mimpi sebagai firasat jika memahami arti dirinya, namun untuk memahami hal itu pastilah terlebih dahulu melalui kisi-kisi yang begitu membelenggu.

Tatkala kebingungan tiba, malam hari dijadikan curahan hati kepada Cinta. Yang mendesak adalah getaran jiwa yang ingin menerobos rongga tenggorokan ini. Persembahkan diri kepada Cinta adalah hakiki.

Jika kita disadarkan dengan kuat oleh mimpi, apalagi malam hari tatkala banyak makhluk yang tertidur. Di sinilah energi-energi suci bertebaran lalu menunjuki satu persatu siapa yang dijadikan kepercayaannya.

Bagi yang terlelap penuh dengan kebajikan, tanda-tanda akan ditampakkan begitu jelasnya sampai merasuk dalam gelombang alam fikir nyata. Se tidaknya pertanda itu sudah membisik dengan suara lantang tanpa selingan apapun.

Dari pusara sujud itu kita akan semakin mengerti makna diri dan jiwa . Setiap ingin melangkah, nasihat dari nonwujud memperkuat bisikan hati. Maka piilhan pun nampak dengan jelasnya yang disuarakan oleh nasihat bijak melalui ruh kita.

Percayakan dirimu pada nasehat itu, sebab takkan kamu dapatkan jika memang waktu itu berpihak denganmu. Yang pasti, kebenaran sejati berpihak kepadamu. Dan peliharalah isi nasehat suci itu hingga kau dapatkan yang kau inginkan sebelum Cinta tak mengenalmu lagi.

Keputusan Jiwa

March 23rd, 2007 by penjaga-cermin

Keputusan Jiwa

Di antara dua pilihan yang membingungkan pasti berharap keutusan yang baik-baik saja.

Kita nggak tau sebab pilihan itu muncul seketika di alam fikir.Betapa tidak? setiap detik selalu ada yang mengusik pikiran kita. setiap detik juga hati kita selalu ada prasangka. setiap detik ketika kita memandang selalu ada keinginan.

Bagaimana ketenteraman itu kita dapatkan? cob panggil dan simak suara hati paling dalam yang kamu miliki. Karena suara hati yang terdalam adalah kebenaran hakiki. Bisikan hati yang singkat lalu merasuk ke otak yang gampang kita ingat. itulah suara hati yang sejati.

Apapun pahitnya kehidupan ini, jika kita mengindahkan itu rasanya tanpa beban untuk melangkah di atas bumi ini. prasangka buruk takkan mampu menerobos dinding hati. Berprasangka baik, itu keputusan jiwa yang mutlak. karena menghindarkan kita dari kesulitan apapun.

Menjadi Bijak

June 15th, 2006 by penjaga-cermin

Mata bukan sekedar untuk mengamati kulit,pori-pori, beserta bulu-bulunya. Betapa berartinyajikamata ini dijadikan satu anugerah yang akan mampu menerobos dari segala kegelapan. begitu pun juga hati ini, tak hanya sekedar untuk berfungsi sebagai penyembunyi celaan terhadap sesamanya.

Kenapa selalu ada anjuran janganlah berbisik jika ada satu orang pendengar? begitu pun juga hati, janganlah mudah terbisik oleh ketercelaan walau lawan bicaramu tak mengerti.

coba tempatkan diri kita menjadi dirinya, jika kita mengerti takkan ada kedengkian. Diam bukan berarti kebodohan, tetapi menjaga hati bukan sekedar ucapan juga. Ramah bukan berarti sok obral janji, tetapi kita tak pernah tau apa arti dibalik ramah tersebut.

Jika hati bisa berbicara denganbahasanya, maka kita pun tau apa yang dibahasakan oleh hati-hati di sekitar kita. menjadi bijak tak semudah mereguk kopi panas di waktu dinginnya pagi. letakkan telapak halus di dalam hatimu. Basuhlah dengan kalimat-kalimat dan bisikan suci yang selalu menyebut namaNya. Jika ingin menjadi bijak

Wassalam Darikoe beserta maafku

Sadaqah yg mulia

February 28th, 2006 by penjaga-cermin

Bismillah,

Jujur aja kalo dikatain aku ini makhluk malam yg sering jarang di rumah, walau pulang kerja malam, aku selalu memperlambat laju motorku di jalanan ketika malam tiba. Malam hari, kita selalu bertemu beberapa misteri dalam hidup, tangis, tawa,termenung,panik semua nampak keasliannya.

Se nyaman-nyamannya orang kaya, jika dia tak bisa menikmati kehidupan maka akan nampak malam harinya. Sekuat-kuat ksatria, jika malam datang bersama maut, nampaklah keasliannya. Jikalau si fakir pada siang harinya mencari makan dengan susah payah, mengharapkan belas kasihan orang. Tetesan keringatnya membasahi jalanan yg tangannya menggenggam kaleng dengan agak sedikit gemeteran menahan lapar. Setelah mendapatkan rezeki walau cukup, akhirnya ia dapat makan dan minum dengan anugerah Allah.

Tetapi apakah Anda tahu yg terjadi di malam hari? dia lapar, haus, kedinginan, tak bisa tidur, apakah kamu sekalian sempat mengetahuinya? mohon beribu maaf jika aku berkesan menggurui Anda sekalian. Karena ini harus aku sampaikan, jika tidak, bagaimana jika Anda mengalami apa yg dialami oleh mereka?

Aku sedikit mengutip kisah dari Imam Ja’far Ash Shadiq As cucu baginda Nabi SAAW nan suci. Satu malam setelah beliau melakukan shalat Tahajjud, sang Imam kerap selalu memasak dan membuat roti. Setelah roti itu matang dan siap dihidangkan, Imam langsung menaruh ke dalam satu jenis baskom.

Kemudian Imam menyangga baskom itu ke atas kepalanya, dan segeralah Imam berkeliling kampung sambil tak melepas pandangannya kiri dan kanan. Salah satu sahabat di masjid sempat mengamati Imam. Dia bertanya dalam hati "kepada siapakah Imam menjual roti2 itu di malam hari? " dan ini berlangsung berulang-ulang di tiap harinya.

Dan akhirnya si sahabat itu menunggu Imam menjajakan roti itu di depan masjid. Tak salah lagi, Imam akhirnya keluar menyungun roti itu kembali di malam hari. "Assalamu alaikum ya Ahlulbait Rasul, hendak kemanakah Anda menjual roti itu? "sang Imam kemudian berkata: "Kalau Anda ingin mengetahui saya berdagang di mana, silahkan Anda ikut saya",jawab Imam mengumbar senyum pada sahabat.

Tanpa berat hati, sahabat mengikuti sang Imam, ternyata memang sepi kondisi malam itu. Sahabat masih bertanya-tanya hendak dijual kemana roti itu? dan akhirnya Imam berhenti di depan seorang fakir yg memakai baju compang-camping sedang memegangi perutnya sambil tertidur di salah satu pelataran pasar.

Imam langsung membangunkannya dengan lembut, Imam kemudian memberinya roti itu untuk dimakan. Dan kejadian itu pun berulang-ulang dilakukan oleh Imam as walau di lain tempat. Sahabat baru mengerti apa yg dilakukan oleh Imam as. " Tahukah Anda, sebenarnya sadaqah yg mulia itu dilakukan di malam hari,  tahukah Anda ada fakir miskin kelaparan dan kehausan dimalam hari? sementara itu di malam hari banyak orang tertidur lelap dengan selimut kulitnya, di malam hari juga para malaikat senantiasa menunggu doa kita juga".

Nah, cuplikan kisah inilah semoga memperpeka jiwa sosial kita untuk lebih menyantuni si miskin. Bayangkan saja, seorang pemimpin di malam hari rela memanggul roti untuk si dluafa’? bagaimana dengan pemimpin kita? bagaimankah dengan kita? Mohon maaf jika tulisan ini berkesan menggurui, semoga Anda yg membaca tergugah hatinya. Keluyuran malam boleh aja, asalkan mengandung makna yg tersirat di dalam kehidupan Anda sendiri. Semoga Allah senantiasa memberi rezki yg cukup untuk kita walau dalam kondisi negara saat ini agak kacau, Amiin!!   

Mengejar Cahaya

February 25th, 2006 by penjaga-cermin

Siapa yg tahu ada percikan titik panas menempel makin lama makin membuat lubang dan bersarang di dalam kaca jiwa. Sekuat-kuat tameng, jika kaca itu rapu maka berakhir dalam lubang nista.

Nggak tau apa yg membuatku begini di satu malam yg kita juga nggak tau ada fakir miskin yang kelaparan atau kehausan. Malam bukan bebrarti tanda maut, kejelasan hakiki yg akan menerpa bagi yang mengerti hatinya.

Malam memeluk, serasa diriku ini makin terpantau oleh yang merajai diriku. aku merasa bernoda, bodoh, angkuh, dan kadang takut yang berlebihan. Jiwaku serasa terhalangi oleh kontaminasi api dan air. Tapi yg mana yang mau aku minum? apa yang membuatku hangat?

Lebih baik diri ini mencari cermin yg akan memberitahukan segala bentuk kecuranganku. Bumi yg dianugerahkan kepadaku untuk bersujud kenapa aku abaikan? sepertinya aku ini mahluk yg paling sombong, padahal aku sendiri berpijak di bumi ini.

Seonggok aksara-aksara mulia yg turun di bumi ini makin aku abaikan, sedangkan hidupku sudah tergambar di sana. Aku ini menyewa, sekali lagi aku ini menyewa untuk hidup di sini. Alangkah durjananya jika aku mencoba untuk memiliki dan mengatur segalanya di sini.

Sudah dua fase aku lalui dalam kesadaran yg tinggi, tapi kenapa aku selalu membodohkan diriku sendiri. Se akan-akan aku ini yg paling mengerti dari semua makhluk yg berjajar di atas hamparan di bawah sinar kehidupan fana. Aku ingin raih keaslianku menuju naungan kemuliaan. Tetapi kenapa sebagian besar tak ada yg memihakku?

Sahabatku yg begitu berjasa mengingatkanku, seperti aku haus dan bertemu dengannya lalu ia mengajakku di kedai anggur yg segar sambil bercerita tentang masa lalu yg menggelitik tawa. Rinduku hanya anugerah yang menambatkan satu cahaya walau se titik saja.

Restui aku, yg kini inginkan itu. Pahami aku yg ingin mengerti tentang segala nafas hati saudara-saudaraku. Biar aku dianggap pengecut, pengkhianat, pengadu domba. Ujungnya, meski luka perih, menyayat membusuk di atas tanah gersang, aku masih ingin "Mengejar Cahaya"